SEJARAH NUSA TENGGARA BARAT (1)

PERIODE KERAJAAN

            Analisis yang dilakukan terhadap benda-benda prasejarah (purbakala) yang diketemukan (seperti nekara, kompleks lesung batu, kompleks sarkofagus, periuk berhias, golok, dan kapak), menunjukkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat sebelumnya telah dihuni oleh orang-orang yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Penduduk asli di wilayah ini dinamakan orang Sasak, yang sebagian besar tinggal di pulau Lombok. Sementara itu, di pulau Sumbawa terdapat juga penduduk asli yang terdiri atas dua kelompok, yaitu suku bangsa Sumbawa (Samawa) dan Bima. Namun, dengan terjadinya gelombang pendatang dari Bali, Makassar, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Nusa Tenggara Timur, penduduk asli tersebut memasuki wilayah pertanian dan kemudian tinggal di pedalaman.

            Keberadaan wilayah ini tidak dapat dilepaskan dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 yang menguasai semua kerajaan baik yang berada di pulau Lombok maupun Sumbawa. Dalam kitab Negarakertagama karangan empu Prapanca tahun 1365, tertulis Lombok Barat bernama Lombok Mirah dan Lombok Timur bernama Sasak Adi, Taliwang, Dompo (Dompu), Sape, Sanghyang Api, Bhima (Bima), Seram (Seran) dan Hutan Kedali (Utan)

            Kerajaan tertua di Provinsi Nusa Tenggara Barat bernama Kerajaan Desa Lae yang terletak di desa Lae. Dalam perjalanan sejarah, kerajaan tersebut pada akhirnya terpecah-pecah menyusul dengan meletusnya gunung Rinjani yang menyebabkan penduduk di kerajaan tersebut menyebar ke seluruh Pulau Lombok. Setelah peristiwa tersebut muncullah kerajaan-kerajaan baru yaitu kerajaan Suwung, yang dibangun oleh Betara Indra, Kerajaan Lombok dengan rajanya Raden Majapahit dan Kerajaan Perigi dengan rajanya Prabu Inopati. Sementara itu di pulau Sumbawa juga berdiri Kerajaan Dompu yang diperintah Prabu Dadelata di samping kerajaan-kerajaan Utan. Seran, Bima, Tambora, Sanggar dan Papekat.

            Runtuhnya kerajaan Majapahit pada abad ke 15, memberikan kesempatan bagi kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Nusa Tenggara Barat untuk berdiri sendiri. Kerajaan Bima dengan rajanya bernama Ruma Mawaa (Sang Aji Bima) dan Kerajaan Sumba yang bergelar Hanggula Ratu Jawa merupakan dua kerajaan besar di wilayah Nusa Tenggara Barat diantara 7 (tujuh) kerajaan yang ada yang kemudian mandiri dari Majapahit.

Sumber Tulisan :

Tim Arsip Nasional Republik Indonesia.(2006). Citra Nusa Tenggara Barat Dalam Arsip. Kerjasama Badan Arsip Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan Arsip Nasional Republik Indonesia

BUDAYA SASAK : BESUNAT

            Dalam tradisi masyarakat Sasak, ketika anak berusia 9 atau 10 tahun, akan menjalani proses menjelang akil baliq yakni sunatan atau dalam bahasa Sasak disebut besunat. Istilah ini sama dengan masyarakat suku Samawa (Sumbawa). Besunat dilaksanakan untuk melengkapi proses daur hidup masyarakat Sasak seperti halnya masyarakat muslim umumnya.

            Memang tidak banyak perbedaan tradisi besunat dalam masyarakat Sasak dengan dua suku lainnya di NTB, yakni suku Samawa dan Mbojo. Kegiatan besunat dalam masyarakat tradisional Sasak, merupakan salah satu kegiatan yang membutuhkan persiapan yang cukup panjang. Karena penyelenggaraan besunat akan menjadi salah satu kegiatan besar yang melibatkan masyarakat sosial. Itulah sebabnya kegiatan ini dinamakan sebagai begawe nyunatan yang diimplementasikan dalam rowah (selamatan)

            Pada masa dahulu, persiapan rowah untuk begawe nyunatan ini dilakukan dalam waktu tahunan. Banyak hal yang disiapkan untuk itu, seperti bahan-bahan makanan hingga kayu api. Ada kegiatan menebang kayu dan memotong-motongnya menjadi kayu bakar yang biasanya dilakukan sebulan sebelum acara dimulai. Ini disebut renggih. Kegiatan persiapan pada H-7 biasanya disebut hari Penjaja, yakni hari-hari yang diisi dengan membuat jajanan tradisional Sasak seperti Tariq, Keranjan, Kali Adem dan kue-kue kering lainnya.

            Ada juga hari yang disebut pemotengan, yakni dilakukan pada H-3, hari untuk membuat tape khas Sasak yang terbuat dari beras ketan putih dengan jaje tujak yang terbuat dari ketan putih yang dimasak dan ditumbuk bersama dengan kelapa parut. Kegiatan pemotongan hewan yang akan dipergunakan sebagai lauk dalam kegiatan begawe ini dilakukan dari sore hingga malam hari. Dan pada subuh hari di hari H berlangsungnya inti dari begawe nyunatan ini, yakni hari di mana si anak disunat, dilakukan kegiatan ngendang, masak nasi pakai sublukan - cara masak khas Sasak di atas jangkih (tungku)

Ketika Hari-H Tiba, Beginilah Tata Caranya

            Tamu mulai berdatangan di pagi hari akan disajikan dulang (nare) penuh isi makanan ringan. Saat ini disebut bejaje-besedaq. Tamu disajikan panganan berupa kue-kue tradisional Sasak. Ini sebagai penghormatan awal tamu-tamu yang datang atau semacam ucapan selamat datang. Kegiatan berikutnya disebut benasiq, yakni kegiatan menyuguhkan tetamu dengan hidangan makan siang berupa nasi lengkap dengan lauk-pauknya. Makan nasi dilakukan siang hari setelah para tamu melakukan kegiatan tahlilan atau berdoa bagi si anak yang akan disunat.

            Setelah waktu basedaq selesai dan sebelum waktu benasiq dimulai, akan masuk pada acara inti yakni mengarak anak menuju tempatnya akan disunat. Kegiatan arak-arakan ini disebut Ngaluq Praje. Anak duduk di atas juli jempane (tempat yang dibuat khusus, biasanya dengan banyak bentuk seperti binatang manok-manokan berbentuk ayam, sesingaan yang berbentuk singa atau kuda-kudaan yang disebut jayengrana - diambil dari tokoh wayang Sasak - juli jempane sebagai tempat duduk si anak yang akan disunat ini, dihias sedemikian rupa sehingga tampak meriah dan ramai. Ini dimaksudkan untuk memberikan nuansa kemeriahan demi membantu anak secara psikis agar siap menghadapi masa-masa sunatan ini.

            Si anak akan dibopong atau dalam bahasa Sasaknya diponggoq oleh beberapa orang layaknya seorang raja. Sebelumnya si anak telah dirias sedemikia rupa mengenakan pakaian khas Sasak di rumah kerabat yang letaknya jauh  dari rumah orang tuanya sebagai tempat penyelenggaraan sunatan. Arak-arakan biasanya berkesempatan melewati satu atau dua kampung, sebagai bentuk pengumuman bagi masyarakat. Selain itu, masa perjalanan yang cukup panjang melewati kampung ketika ia berada di tandu khusus dan diikuti oleh iring-iringan masyarakat yang disertai kesenian khas Sasak tersebut dimaksudkan juga sebagai penggembira bagi si anak yang akan disunat.

            Saat tiba dilokasi sunatan, si anak akan didudukkan pada sebuah berugak pepaosan yang sengaja dibuat dirumah orang tuanya tempat penyelenggaraan kegiatan tersebut. Namun, sebelum duduk di berugaq khusus tersebut dan masih berada di atas tandu juli jempane, si anak tersebut mengelilingi berugaq pepaosan sebanyak tujuh kali. Saat kegiatan ini berlangsung terus diiringi dengan kesenian yang menbuat suasana semakin meriah.

            Sunat secara tradisonal menggunakan tukang sunat yang memang telah biasa dan dipercaya dan dipercaya oleh masyarakat untuk melakukan hal tersebut. Tukang sunat dalam masyarakat Sasak adalah orang khusus yang menyunat si anak menggunakan sembilu atau pisau khusus. Biasanya mereka merupakan turun menurun sebagai tukang sunat. Penghormatan bagi tukang sunat ini, secara tradisional berupa hadiah yang disebut andang-andang berupa buaq liko' (buah pinang dan daun sirih), beras, dulang penamak, sejumlah uang dan lain-lain untuk dibawa pulang.

            Ketika disunat si anak didudukkan di atas buah kelapa hijau. Saat sunatan tiba, biasanya si anak akan takut. Namun, orang disekitarnya akan membacakan shalawat, serakalan dan takbir keras-keras untuk mengalihkan perhatiannya dan memberi pesan bahwa dia tak sendiri sekaligus memberikannya semangat.

            Darah akan mengucur  dari kemaluan si anak yang disunat dengan sembilu yang dilakukan dalam satu kali iris dengan kecepatan tinggi oleh juru sunatnya. Saat darah mengucur keras inilah, ayah dari si anak akan menggendong buah hatinya itu dengan tubuh tanpa baju, melekatkan kemaluan si anak yang mengucurkan darah ke pinggangnya seraya menggendong si anak hingga darah berhenti mengalir. Maka tubuh sang ayah khususnya di bagian pinggang akan terlihat berlumuran darah. Dan untuk menghibur si anak, kebiasaan masyarakat Sasak adalah dengan memberikan sejumlah uang padanya.

            Pengobatan tradisional pada anak usai disunat dimulai keesokkan harinya. Pagi-pagi, masih dengan iringan kesenian, si anak, diarak oleh keluarga dan diponggoq di atas juli jempane, diajak untuk berendam setengah badan di sungai untuk melemaskan kulit-kulit luka sunat. Dahulu sungai-sungai yang mengalir di Lombok adalah sungai dengan air yang jernih dan bersih. Kegiatan berendam ini dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Setelah direndam di air beberapa jam lamanya, luka sunat diobati menggunakan bubuk kopi yang dicampur putih telur dan bubuk batu kumbung. Jika luka sunat mulai terlihat bengkak akan diobati menggunakan buah pinang muda yang dihangatkan atau batu yang panas kena matahari. Luka sunat ini biasanya akan sembuh sekitar dua minggu.

            Inilah prosesi salah satu daur hidup dalam tradisi masyarakat Sasak yang berlaku di masa dulu. Beberapa hal masih tetap dipertahankan seperti kegiatan begawe yang melibatkan masyarakat sosial dalam bergotong royong saling membantu ketika kegiatan ini diselenggarakan. Kerjasama masyarakat hingga saat ini masih terlihat di pedesaan dan pedalaman pulau Lombok. Namun ada hal-hal yang juga mengikuti perkembangan jaman, seperti pengobatan yang telah menggunakan obat-obatan secara medis. Karena bagaimanapun, penting diperhatikan bahwa salah satunya, sungai tidak lagi bersih dan jernih seperti masa dulu. Kegiatan berendam di sungai, tampaknya tidak banyak dilakukan lagi bahkan mulai ditinggalkan.

Sumber Tulisan : 

Naniek I. Taufan.(2011).Tradisi dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.Penerbit : Museum Kebudayaan Samparaja Bima. Bima.

BUDAYA SASAK : LEMPOT UMBAQ

    
            Sesaat setelah bayi lahir, oleh orang tua atau keluarganya segera ditenunkan selembar kain yang disebut lempot umbaq, dari bahan benang katun dengan motif khas Sasak bergaris-garis lurus, yang pada ujungnya diberi mata uang logam. Lempot umbaq berarti kain untuk menggendong dan disimpan dengan baik di tempat yang khusus. Kain ini bukan selebar kain sarung atau songket, tetapi lebarnya hanya setengah dari kain tenun umumnya. Lempot umbaq sebisa mungkin diselesaikan hari itu juga. Dan tidak dipersiapkan sebelumnya, meskipun beberapa saat sebelum bayi lahir. Inilah keunikan tenunan khas ini, ditenunnya sesaat setelah bayi lahir. Benar - benar sebagai tanda pada saat inilah bayi itu mulai mengenal dunia.

            Kain ini punya ritual tersendiri saat menenunnya. Pembuatan lempot umbaq di kalangan masyarakat Sasak, merupakan tradisi turun - temurun yang dilakukan setiap kelahiran seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan dibuatkan umbaq oleh orang tuanya. Pembuatan yang mengharuskan keikutsertaan garis keturunan tersebut memberi arti tersendiri yakni wahana silahturahmi atau pemersatu keluarga. Umbaq termasuk kain yang disakralkan karena sewaktu dibuat melalui upacara ritual dan ditenun oleh para wanita yang memiliki kemampuan teknis maupun spiritual dengan syaratnya saat menenun adalah wanita yang tidak sedang dalam keadaan haid atau wanita yang sudah menopause.

            Karenanya, lempot umbaq menjadi demikian sakral sehingga harus dijaga dan dirawat dengan baik. Jika tidak dipelihara dengan baik, dipercaya akan mempengaruhi perilaku tidak baik pada anak tersebut di kemudian hari. Istilahnya memedam, anak bisa sakit atau berprilaku kurang baik. Lempot umbaq ini akan menyertai si bayi pada setiap upacara tradisi yang diperuntukkan untuknya, misalnya pada upacara adat praq api saat petoq poset atau pegat poset, yang berarti putusnya tali pusar. Kain ini juga berfungsi sebagai kelengkapan acara adat lainnya seperti ngurisan, sunatan, sorong serah aji karma dan upacara mengayu-ayu.

            Lempot umbaq menjadi semacam kawan lahir yang menyertai bertambahnya usia si bayi. Karena pembuatannya dilakukan dengan ritual tertentu dan dipelihara serta dirawat dengan baik, Lempot umbaq dipercaya memiliki fungsi magis di kalangan masyarakat Sasak. Sehingga, seringkali dipakai dalam peristiwa keseharian misalnya, umbaq ragi empung puting, dibuat untuk dipakai sebagai sarana mengobati anak yang suka makan kotorannya sendiri. Umbaq ragi selemang, dipakai sebagai sarana merawat anak yang nakal agar baik dan patuh kepada orang tua. Umbaq ragi bidadari ngamuk, untuk merawat anak yang suka marah atau sering mengamuk. Umbaq ragi buat bunut, untuk merawat anak yang sering bisul. Umbaq ragi budi dana, untuk merawat anak-anak yang rewel. Umbaq ragi budi sardi, untuk merawat anak-anak yang berkelakuan banci dan sebagainya.


Sumber Tulisan : 

Naniek I. Taufan.(2011).Tradisi dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.Penerbit : Museum Kebudayaan Samparaja Bima. Bima.

BUDAYA SASAK : PRAQ API


            Kelahiran seorang bayi adalah salah satu anugrah istimewa bagi seluruh anggota keluarga besar.  Ini pertanda bertambahnya jumlah anggota keluarga yang akan mengisi garis-garis silsilah. Hal inilah yang membuat kelahiran bayi mendapat perhatian khusus dari orang tua dan keluarga. Perlakukan dan kasih sayang istimewa pun tidak ketinggalan bagi bayi tersebut. Acara - acara dan syukuran - syukuran mewarnai penyambutannya. Yang umum dilakukan adalah cara cukuran dan aqiqah - bagi muslim. Namun, tidak sedikit yang menyelenggarakan acara-acara berbau tradisi untuk menyambut sang bayi. Syukuran kecil ataupun besar, bermakna sama, yakni kebahagiaan. Masyarakat Sasak Lombok, memiliki tradisi memberi nama pada bayi yang disebut dengan Praq api.

            Tradisi praq api dalam masyarakat Sasak umumnya masih dilakukan hingga saat ini, terutama bagi masyarakat pedesaan. Praq api berarti perapian. Dalam masyarakat Sasak, keluarga yang menyambut kelahiran bayi membuat perapian di dekat ibu dan bayi tersebut untuk menghangatkannya. Perapian ini dibuat dalam tungku gerabah atau sejenis baskom dari tanah yang dibakar dengan kayu yang paling sedikit menimbulkan asap agar tidak mengganggu bayi dan ibunya. Perapian yang menghangatkan ini juga diberi wewangian untuk kenyamanan ibu dan bayi dari bau amis darah dan lainnya. Perapian tersebut dibuat selama tujuh hari berturut-turut hingga keduanya relatif sehat kembali dan biasanya di hari ketujuh itulah pusat bayi putus atau dikenal dengan harinya petoq poset. Saat petoq poset inilah acara praq api diadakan yakni acara pemberian nama yang disandang secara resmi oleh bayi Sasak.

            Praq api bukan hanya dilakukan oleh kaum bangsawan Sasak, melainkan secara umum bagi masyarakat biasa juga. Motong siung, merupakan sajian khas yang harus ada dalam setiap acara praq api. Motong siung ini adalah sejenis penganan khas Sasak untuk acara tradisi ini yang dibuat dari ketan yang disangrai dan diberi gula serta kelapa, yang nantinya akan dimakan beramai-ramai oleh para undangan yang hadir sebagai simbol si bayi diterima kehadirannya dalam masyarakat sosial. Bagi yang masih memegang tradisi penyambutan bayi ala Sasak, yang juga harus ada pada saat bayi lahir adalah Lempot Umbaq (kain gendongan). Kain ini sengaja khusus ditenun bersamaan dengan hari kelahiran bayi dan kain yang ditenun kilat tersebut mulai difungsikan.

            Kini, meskipun tradisi praq api masih tetap dilakukan, pembuatan perapian yang diperuntukkan ibu dan bayi saat lahir hingga hari ke tujuh, tidak lagi umum dilakukan. Mereka yang sesekali masih membuat perapian tersebut adalah masyarakat di daerah-daerah tertentu, misalnya di Desa Setangor, Lombok Selatan. Tetapi, setiap melaksanakan tradisi praq api, Motong siung selalu ada. Praq api bagi masyarakat Sasak, dilakukan sebagai pengikat anak dengan tradisi leluhurnya. Secara umum tradisi ini dilakukan pada hari ketujuh setelah bayi lahir, karena secara umum pusat bayi putus hari ketujuh. Namun, jika pada hari ketujuh pusat bayi belum putus, tidak akan mengganggu acara praq api. Substansinya, adalah mengikat anak dengan tradisi itu.


            Upacara tradisi praq api merupakan acara syukuran yang dilakukan dengan sederhana, ditandai dengan pemberian sembeq pada bayi. Sembeq yaitu tanda merah pada dahi bagian tengah persis pada pangkal hidung bayi yang terbuat dari kapur sirih atau pinang - sirih pinang dan sebagainya - yang umumnya dikunyah. Tentu disertai dengan doa-doa khusus untuk kebaikan si bayi selama hidupnya. Atau yang biasa dikenal juga dengan jampi-jampi sebagai pengusir makhluk halus agar tidak mengganggu si bayi. Bayi juga "dijaga" secara tradisional dengan bawang putih yang dipeniti pada bagian bajunya.

Sumber Tulisan : 

Naniek I. Taufan.(2011).Tradisi dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.Penerbit : Museum Kebudayaan Samparaja Bima. Bima.

BUDAYA SASAK : BRETES (BISOQ TIAN)


            Seperti halnya masyarakat tradisional lain di Indonesia, Suku Sasak yang tinggal di Pulau Lombok juga mengenal tradisi selamatan ketika usia kandungan calon ibu pada kehamilan pertama berumur tujuh bulan atau umumnya dikenal dengan tujuh bulanan. Tradisi tujuh bulanan dalam masyarakat Sasak disebut Bretes atau Bisoq Tian
.
            Bretes dalam bahasa Sasak artinya putus atau merupakan upacara daur hidup dalam tradisi masyarakat Sasak yang aplikasinya dalam bentuk rowah (keselamatan). Kegiatan bretes tidak dilakukan siang hari seperti pada umumnya, melainkan diselenggarakan hari Kamis malam atau malam Jumat. Saat usia kehamilan tujuh bulan ini, secara tradisional dianggap bayi yang dikandung sudah matang atau sudah bisa dilahirkan. Artinya usia tersebut sesungguhnya bayi sudah siap lahir. Namun, usia sembilan bulan adalah usia kehamilan yang dianggap benar-benar telah siap.

            Tradisi Bretes dilakukan untuk menyiapkan calon ibu dalam menghadapi proses melahirkan ketika saatnya tiba. Seluruh proses kegiatan selamatan ini dikenal dengan nama rowah bretes. Suasana islami dalam tradisi Bretes, kental mewarnai tiap protes ritualnya.Hal ini disebabkan karena masyarakat suku Sasak secara umum beragama Islam. Ketika calon ibu yang tengah mengandung itu akan menjalankan prosesi Bretes, saat mandi air bunga setaman atau bunga rampai, posisi duduknya menghadap ke arah kiblat.

            Usai mandi dengan air bunga setaman yang dilakukan oleh dukun beranak – dalam tradisi aslinya – calon ibu akan mengitari dukun beranak tersebut atau ibunda dari calon ibu tujuh kali. Prosesi mengelilingi ini dilakukan sebanyak tujuh kali seperti orang tawaf (ritual mengelilingi Ka’bah).

            Selama prosesi Bretes berlangsung, doa-doa dari ayat suci Al-Quran terus berkumandang dalam zikir serakalan yang mengiringinya. Namun, sebelum serakalan dimulai, dilakukan kegiatan membaca Surat Maryam. Salah satu surat yang menggambarkan kemuliaan dan keluhuran seorang ibu ketika melahirkan Nabi Isa A.S / Yesus., tanpa ayah secara nyata. Zikir dan doa yang dilantunkan adalah untuk kebaikan dan kelancaran persalinan yang akan dihadapi oleh calon ibu tersebut. Doa – doa tersebut sengaja dikumandangkan untuk menyuntikkan keberanian, semangat dan dukungan psikis bagi ibu menghadapi hari – hari “berat” sekaligus membahagiakan ketika melewati proses melahirkan kelak.

            Prosesi bretes diawali dengan menyiapkan air yang akan dipakai untuk memandikan calon ibu. Air tersebutlah yang dimaksud dengan air bunga setaman atau bunga rampai yang dikenal masyarakat Sasak sebagai air kumkuman, yang akan dipakai untuk ritual mandi bagi calon ibu. Air tersebut diambil dari sebuah sumur atau jika ada mata air khusus yang biasa dianggap suci bagi masyarakat di desa atau perkampungan tersebut. Ada juga yang memakai air yang diambil dari tujuh mata air. Kesemuanya ini tergantung dari kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-menurun masyarakat tersebut. Tujuannya sama, memandikan si calon ibu dengan air yang suci sehingga jauh dari bibit-bibit penyakit dan bersih.

            Air kumkuman ini biasanya ditempatkan di sebuah wadah yang terbuat dari tanah liat atau yang dikenal dengan gentong. Bukan hanya air kumkuman yang disiapkan, melainkan air bersih lain dari beberapa wadah lainnya sebagai pembilas. Ketika melaksanakan ritual mandi air kumkuman, ada yang khas yang dilakukan masyarakat komunitas masyarakat adat Sasak, yakni, selain si calon ibu duduk menghadap arah kiblat, ia juga di dudukkan persis di bawah petirisan (pancuran yang ada pada tiap sudut atap rumah tempat jatuhnya air hujan dalam volume yang lebih besar dari lainnya, berupa sambungan atap genteng). Posisi duduknya membelakangi petirisan tersebut.

            Calon ibu diguyur air kumkuman dari arah belakang, seolah-olah air mandi tersebut langsung jatuh dari petirisan tersebut. Selama prosesi adat bretes berlangsung, selalu ada kemenyan yang dibakar dan ditempatkan di tengah-tengah acara tersebut. Ini merupakan bagian dari menyemarakkan prosesi dengan mengharumkan suasana. Juga merupakan bagian dari komunikasi masyarakat adat Sasak dengan para leluhurnya. Masyarakat tradisional Sasak percaya ketika mereka menyelenggarakan kegiatan semacam ini, para leluhurnya akan pulang dan disumsikan mereka ikut menyaksikan segala prosesi ritual atau upacara adat tersebut. Karena itulah, selama prosesi berlangsung, dalam rumah tempat diselenggarakannya kegiatan disiapkan dulang (nare) berisi makanan yang dimaksudkan untuk “menjamu” para leluhur. Menghormati leluhur namun tidak menyembahnya. Semacam bentuk komunikasi gaib antara yang hidup secara nyata dengan yang tidak nyata.

            Dalam prosesi tersebut juga akan dibacakan kisah-kisah legenda Sasak atau yang diambil dari cerita lontar Sasak seperti Angling Darma, yang menggambarkan tentang seorang anak laki-laki yang hebat. Bentuk-bentuk dan cerita lontar dan legenda ini diungkapkan dalam kegiatan bretes adalah mengungkapkan pengharapan baik bagi si anak yang lahir kelak, sesuai dengan tokoh-tokoh yang menjadi sentral dalam cerita tersebut.

            Dalam upacara bretes tidak hanya menyiapkan mental si calon ibu, melainkan ada beberapa hal yang juga disiapkan untuk si bayi yang akan lahir kelak. Misalnya menyiapkan sebuah kain khas yang ditenun secara tradisional yang disebut kain tembasan. Kain ini merupakan kain khusus untuk si bayi yang terbuat dari benang mentah (kasar). Selain itu, dulunya, ada juga yang menggunakan umbaq kombong. Kain ini kelak akan menjadi “kawan” bagi si bayi ketika sakit yang akan dipakai untuk menyelimuti. Tidak jarang, saat sakit melanda bayi tersebut, kain ini akan direndam dan airnya diberikan kepada si bayi untuk diminum.

            Usai prosesi mandi dengan air kumkuman di bawah petirisan, calon ibu di-sembeq (mengoleskan ramuan tertentu di kening seperti orang India) di tiap pergelangan dan di sela dua alis. Mengolesnya dilakukan dari atas ke bawah. Maknanya untuk memberikan rasa optimisme bagi calon ibu. Bahan untuk sembeq ini terbuat dari lekoq (daun sirih), buah pinang yang disebut buaq, gambir dan apuh mamaq (kapur sirih). Sembeq dilakukan oleh seorang belian (dukun atau “orang pintar” yang legalitasnya diterima dalam masyarakat tradisi Sasak). Sembeq yang dianggap paling afdol adalah yang dimamaq atau dikunyah belian. Meskipun demikian ada juga yang menumbuk halus bahan sembeq tersebut menggunakan alat penumbuk. Sembeq adalah akhir dari prosesi adat bretes.

            Dalam masyarakat tradisional Sasak juga mengenal pendidikan pre-natal (pra kelahiran). Selain calon ibu tak lagi boleh bekerja semenjak mulai mengadung, terutama menjelang masa-masa penantian melahirkan, calon ibu tidak diperbolehkan sama sekali berkata-kata yang tidak sopan apalagi memaki-maki. Namun, bukan berarti perempuan yang tidak mengandung boleh melakukan itu. Calon ibu akan senantiasa diingatkan oleh orang disekitarnya untuk tidak melakukan hal tersebut. Ini juga merupakan bentuk perhatian keluarga dan masyarakat sosial bagi kebaikan calon ibu dan bayinya kelak.

            Jika hal tersebut dilakukan, dipercaya anaknya kelak juga akan terbiasa melakukan hal-hal yang dilakukan oleh si ibu. Karena, dianggap secara langsung dapat mempengaruhi mental anak dalam kandungan.

            Beberapa hal lain yang ditabukan dalam masyarakat Sasak, saat seorang perempuan mengandung adalah suaminya tidak boleh memotong rambut sampai istrinya melahirkan. Suami juga tidak boleh membunuh binatang. Bagi para tukang jagal, biasanya akan menghentikan aktifitas menjagal ketika istri-istri mereka mengandung. Mereka kembali menekuni profesi tersebut setelah istrinya melahirkan. Masyarakat tradisional Sasak memiliki keyakinan yang kuat. Jika itu dilanggar anak yang dilahirkan akan cacat.

            Pendidikan pre-natal tradisional semacam ini merupakan kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi bretes.

Sumber Tulisan : 

Naniek I. Taufan.(2011).Tradisi dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.Penerbit : Museum Kebudayaan Samparaja Bima. Bima.